Seperti biasanya, setiap hari senin ada upacara bendera. Yang tidak menggunakan topi atau dasi sudah pasti menjadi tontonan siswa siswi lain di depan, untung saja pada saat itu aku berpakaian lengkap, dengan dasi dan topi. Dan yang pasti menggunakan celana dan juga baju. Setelah upacara selesai ada waktu istirahat sekitar 5 menit, tapi pada saat itu aku langsung kembali ke kelas.
Setelah sampai di kelas, aku langsung duduk. Tempat duduk ku itu di bagian paling belakang, dekat dengan jendela.
Tidak berselang lama duduk, dari samping jendela tiba - tiba ada seorang perempuan memanggil:
"Woi", aku pun langsung melihat ke arah jendela. Terlihat ada tiga perempuan di samping jendela. Lalu salah satu perempuan itu bilang:
"Mana yang namanya Ryan?" spontan, aku malah nunjuk ke arah teman yang di samping, padahal di dalam hati “ Ryan kan aku.".
Seketika tiga perempuan itu pergi.
"Barusan siapa?" tanya Rizki.
Rizki ini adalah teman yang duduk di samping ku, yang menjadi andalan ku jika aku belum mengerjakan PR, atau sedang ada ulangan. Pokonya andalan banget, sering juga aku curhat ke dia.
"Engga tau siapa." jawabku.
"Lah kenapa lu tadi nunjuk ke gua?" tanya dia dengan heran.
"Dia tadi nanya, mana yang namanya Ryan, tapi gua nunjuk ke elu wkwkwkwk." jawabku sambil tertawa.
"Anjirrr lu!!!" dengan nada keras. Hampir seluruh penghuni kelas melihat ke arah kami berdua.
Tiba - tiba si Diego, nge jitak kepala kami, lalu bilang:
"Itu udah ada guru, diem napa jangan berisik, dongeng nya di terusin nanti aja." katanya, sambil memalingkan badan ke depan.
Bel istirahat berbunyi, tapi aku tidak pergi ke kantin, aku lebih memilih untuk mengerjakan PR yang sama sekali belum ku kerjakan. Dan si Rizki pergi ke kantin bersama Diego dan Anas.
Tidak lama mereka kembali, Rizki langsung mendatangi ku lalu bilang:
"Yan, tadi waktu gua lagi turun lewat tangga pojok, diliatin sama anak kelas 12, gara - gara lu tadi nunjuk ke gua?"
"Mana gua tau!" jawabku, tanpa menoleh ke arah Rizki. Karena aku sendiri masih sibuk mengerjakan PR. Walaupun PR yang ku kerjakan ini mencontek kerjaannya dia.
"Pasti gara - gara yang tadi nih." kata Rizki.
"Gara - gara yang tadi gua nunjuk ke elu?" tanyaku.
"Iya.”
"Harusnya lu tadi bilang ke mereka, kalo lu itu Rizki bukan Ryan. Kalo perlu lu teriak deh. Lagian salah lu sendiri kan gak bilang." jawabku sambil menahan tawa.
"Banyak alesan lu..." balas dia dengan nada kesal.
Setelah sampai di kelas, aku langsung duduk. Tempat duduk ku itu di bagian paling belakang, dekat dengan jendela.
Tidak berselang lama duduk, dari samping jendela tiba - tiba ada seorang perempuan memanggil:
"Woi", aku pun langsung melihat ke arah jendela. Terlihat ada tiga perempuan di samping jendela. Lalu salah satu perempuan itu bilang:
"Mana yang namanya Ryan?" spontan, aku malah nunjuk ke arah teman yang di samping, padahal di dalam hati “ Ryan kan aku.".
Seketika tiga perempuan itu pergi.
"Barusan siapa?" tanya Rizki.
Rizki ini adalah teman yang duduk di samping ku, yang menjadi andalan ku jika aku belum mengerjakan PR, atau sedang ada ulangan. Pokonya andalan banget, sering juga aku curhat ke dia.
"Engga tau siapa." jawabku.
"Lah kenapa lu tadi nunjuk ke gua?" tanya dia dengan heran.
"Dia tadi nanya, mana yang namanya Ryan, tapi gua nunjuk ke elu wkwkwkwk." jawabku sambil tertawa.
"Anjirrr lu!!!" dengan nada keras. Hampir seluruh penghuni kelas melihat ke arah kami berdua.
Tiba - tiba si Diego, nge jitak kepala kami, lalu bilang:
"Itu udah ada guru, diem napa jangan berisik, dongeng nya di terusin nanti aja." katanya, sambil memalingkan badan ke depan.
Bel istirahat berbunyi, tapi aku tidak pergi ke kantin, aku lebih memilih untuk mengerjakan PR yang sama sekali belum ku kerjakan. Dan si Rizki pergi ke kantin bersama Diego dan Anas.
Tidak lama mereka kembali, Rizki langsung mendatangi ku lalu bilang:
"Yan, tadi waktu gua lagi turun lewat tangga pojok, diliatin sama anak kelas 12, gara - gara lu tadi nunjuk ke gua?"
"Mana gua tau!" jawabku, tanpa menoleh ke arah Rizki. Karena aku sendiri masih sibuk mengerjakan PR. Walaupun PR yang ku kerjakan ini mencontek kerjaannya dia.
"Pasti gara - gara yang tadi nih." kata Rizki.
"Gara - gara yang tadi gua nunjuk ke elu?" tanyaku.
"Iya.”
"Harusnya lu tadi bilang ke mereka, kalo lu itu Rizki bukan Ryan. Kalo perlu lu teriak deh. Lagian salah lu sendiri kan gak bilang." jawabku sambil menahan tawa.
"Banyak alesan lu..." balas dia dengan nada kesal.
Setelah Rizki bilang seperti itu aku jadi tidak enak hati dengannya, apalagi kalau harus berurusan dengan kelas 12, jadi aku memutuskan untuk menemui tiga perempuan yang tadi meneriaki ku di luar jendela setelah sepulang sekolah, aku jadi semakin kepikiran tidak karuan, karena aku memang seperti ini kalau ingin bertemu dengan perempuan, gugup campur aduk tak karuan, bertemu dengan satu perempuan saja sudah membuat deg-degan apalagi tiga sekaligus, dan Bel pulang sekolah pun dibunyikan, aku langsung bergegas menemui mereka dan bilang yang sebenarnya. kalau aku ini Ryan, dan ternyata mereka sudah mengetahui hal itu, mereka hanya ingin mengetesku saja, lalu aku menanyakan soal kenapa si Rizki sampai diliatin oleh anak kelas 12 dan ternyata karena aku chattan dengan cewek yang bernama Karin dimana salah satunya itu ada diantara mereka bertiga dan akupun langsung kaget, kami memang belum pernah bertemu tapi sudah chattan walaupun hanya beberapa, bisa dibilang kenal di sosmed. ternyata anak kelas 12 itu juga menyukai Karin jadi tak wajar kalau si Rizki diliatin karena mereka taunya itu aku. dan aku pun sudah melakukan tanggung jawabku untuk jujur demi temanku dan akan meminta maaf dengannya keesokan harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar